Aku mengucapkan 'Selamat Tinggal Jragung' untuk yang kedua kalinya. Tapi kali ini lain, aku tak meneteskan air mata seperti dulu, hatiku tak melankolis karena di tinggal teman-teman. Aku siap menempuh perjalanan berat sekali lagi, tanpa sandaran punggung, tanpa sandaran hati, dan sangu yang mungkin tak memadahi (semoga cukup yah ^_^).
Ok, aku ingin bercerita tentang kisahku kecantol sama Kudus. Setelah UAN MTs aku belum menetapkan pilihan sekolah selanjutnya. Ada beberapa opsi dari orang tua; Bogor, Semarang, Solo. Ada juga opsi dari guru, Bu Anis menyarankan Gontor dan Bu Luluk menyarankan Kudus.
Setelah beberapa pilihan ditimbang dan dianalisa aku mengeliminasi Semarang dan Kudus. Aku memilih sekolah yang full dengan lelaki kalau untuk Semarang tidak ada sekolah macam itu. Kalau kota Kudus aku tak punya alasan, pokoknya aku tidak ada niat untuk kesana sedikitpun.
Tapi pilihanku berubah drastis setelah ayah sowan ke Mbah Dawam dan Mbah Baidlowi. Beliau-beliau klop menyarankan ayahku untuk menempatkanku di Kudus. Mbah Baidlowi memberi alasan karena di sana ada putra beliau (Guz Hilmi) sedangkan Mbah Dawam tak memberikan alasan, pokoknya aku harus sekolah di Kudus.
Kedua kiai sudah klop membuat ayahku harus menerima dawuh tersebut. Aku tak bisa berbuat apa-apa, aku menerima dengan berat banget.. tapi begitulah yang membuat sejarahku tercipta.
Aku berangkat ke Kudus hari Ahad bulan juli 2006 (tanggalnya lupa). Aku mencoba untuk bersikap apa adanya tanpa memperlihatkan kesedihan, tapi tetap saja kelihatan kalau hatiku menangis.... Sesampainya di sana orang pertama yang menjadi temanku adalah Fika Badrudin. Dia yang mengantar aku beli seragam, sepatu, dan lain lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Hai, Selamat datang di blogku...
Udah selesai kan membacanya? silahkan tulis apa yang menjadi pemikiran Anda. Hinaan, makian, cercaan, protes, bahkan PUJIAN diperbolehkan di sini..
Jangan lupa untuk menyantumkan blog Anda...
Insya Alloh saya akan berkunjung..