Selasa, 20 Oktober 2009

Hari Rabu Berangkat ke Kudus (bagian 2-3)

Namanya MUSYQ waktu itu sebelum diganti dengan MUS-YQ. Aku menjadi pribadi yang sangat lain, aku nggak betah hidup di pondok itu. Tapi aku tetap memaksa untuk tetap bertahan, kasihan papa+mama karena ongkos di pondok tersebut boleh dibilang mahal.

Lagu My Heart adalah lagu yang pertama kali ku dengar di pondok tersebut. Lagu itu menjadi kenangan tersendiri. Lagu terakhir yang ku dendangkan bersama teman-teman di Gedong Songo dan lagu yang mengisi hari pertamaku di pondok. Sempet nangis juga tapi keburu ketahuan sama Guz Hilmy, nggak jadi deh...

Aku di Kudus sendirian, tak ada teman dan benar-benar sendiri. Sebenarnya aku berangkat dengan Fikar dan Farid, tapi mereka tetap orang baru bagiku. Mereka sudah dekat sebelumnya jadi nggak ada masalah dengan hubungan keduaya.

Orang yang sangat berjasa membuatku bertahan di sana adalah Guz Hilmy. Beliau mengajari aku dengan telaten, mewanti-wanti aku, meminjami memberiku uang saat aku bokek. Mungkin aku nggak jadi mondok kalau tidak di support oleh beliau, terima kasih Guz...

Hari-hari pertama sekolah biasa saja. Aku belum mengenal siapa-siapa dan nggak tahu pelajarannya model apa. Kaget dan kemudian menjadi bodoh setelah tahu pelajarannya nggak pernah diajarkan di MTs sebelumnya, tapi anehnya aku di tempatkan di kelas A. Sebuah anugrah dan sebuah awal petaka...

"Kowe ning kelas opo?" kalau ada orang bertanya lalu aku jawab A, maka mereka akan kagum. Sejarah mencatat sangat sedikit sekali murid dari luar sekolah itu yang ditempatkan di kelas A.

Aku banyak menulis puisi rindu, seperti anak muda kebanyakan bila hatinya sedang tak enak. Aku menanggalinya dan mencatat jam-jam puisiku tercipta. Sebagai tumpahan rasa puisi sangat mewakili, aku menulis sejarah hatiku di puisi-puisi itu, Sekarang aku tak tahu kemana rimbanya, selain karena nulisnya di sembarang buku juga buku tulis itu kerap hilang dan tahu-tahu puisiku ada di tempat sampah. Tragis yaa?

Begitulah, aku sekolah di sana tak banyak menyerap pelajaran. Banyak masalah yang menubrukku, mulai dari guru, TU, Kepala Madrasah, pengurus pondok, kakak kelas, teman-teman, tapi tak pernah punya masalah dengan seorang gadis dan aku bersyukur akan hal itu. Kayaknya aku belajar untuk menghadapi masalah saja di Kudus.

0 comments:

Poskan Komentar

Hai, Selamat datang di blogku...

Udah selesai kan membacanya? silahkan tulis apa yang menjadi pemikiran Anda. Hinaan, makian, cercaan, protes, bahkan PUJIAN diperbolehkan di sini..

Jangan lupa untuk menyantumkan blog Anda...
Insya Alloh saya akan berkunjung..